Pendidikan
memiliki peran penting pada era sekarang ini. Karena tanpa melalui
pendidikan proses transformasi dan aktualisasi pengetahuan moderen sulit
untuk diwujudkan.
Demikian halnya dengan sains sebagai bentuk pengetahuan ilmiah dalam
pencapaiannya harus melalui proses pendidikan yang ilmiah pula. Yaitu
melalui metodologi dan kerangka keilmuan yang teruji. Karena tanpa
melalui proses ini pengetahuan yang didapat tidak dapat dikatakan
ilmiah.
Dalam Islam pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan dilakukan sepanjang usia (long life education).
Islam memotivasi pemeluknya untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan
dan pengetahuan. Tua atau muda, pria atau wanita, miskin atau kaya
mendapatkan porsi sama dalam pandangan Islam dalam kewajiban untuk
menuntut ilmu (pendidikan). Bukan hanya pengetahuan yang terkait urusan ukhrowi saja yang ditekankan oleh Islam, melainkan pengetahuan yang terkait dengan urusan duniawi juga. Karena tidak mungkin manusia mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui jalan kehidupan dunia ini.
Islam
juga menekankan akan pentingnya membaca, menelaah, meneliti segala
sesuatu yang terjadi di alam raya ini. Membaca, menelaah, meneliti hanya
bisa dilakukan oleh manusia, karena hanya manusia makhluk yang memiliki
akal dan hati. Selanjutnya dengan kelebihan akal dan hati, manusia
mampu memahami fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya, termasuk
pengetahuan. Dan sebagai implikasinya kelestarian dan keseimbangan alam
harus dijaga sebagai bentuk pengejawantahan tugas manusia sebagai khalifah fil ardh.
Dalam
makalah ini akan dipaparkan pandangan Islam tentang pendidikan,
pemerolehan pengetahuan (pendidikan), dan arah tujuan pemanfaatan
pendidikan.
Pendidikan Menurut al-Qur’an
al-Qur’an
telah berkali-kali menjelaskan akan pentingnya pengetahuan. Tanpa
pengetahuan niscaya kehidupan manusia akan menjadi sengsara. Tidak hanya
itu, al-Qur’an bahkan memposisikan manusia yang memiliki pengetahuan
pada derajat yang tinggi. al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11
menyebutkan:
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”.
al-Qur’an
juga telah memperingatkan manusia agar mencari ilmu pengetahuan,
sebagaimana dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 122 disebutkan:
“Mengapa
tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya
mereka itu dapat menjaga dirinya”.
Dari
sini dapat dipahami bahwa betapa pentingnya pengetahuan bagi
kelangsungan hidup manusia. Karena dengan pengetahuan manusia akan
mengetahui apa yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang
membawa manfaat dan yang membawa madharat.
Dalam sebuah sabda Nabi saw. dijelaskan:
“Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah)
Hadits
tersebut menunjukkan bahwa Islam mewajibkan kepada seluruh pemeluknya
untuk mendapatkan pengetahuan. Yaitu, kewajiban bagi mereka untuk
menuntut ilmu pengetahuan.
Islam
menekankan akan pentingnya pengetahuan dalam kehidupan manusia. Karena
tanpa pengetahuan niscaya manusia akan berjalan mengarungi kehidupan ini
bagaikan orang tersesat, yang implikasinya akan membuat manusia semakin
terlunta-lunta kelak di hari akhirat.
Imam Syafi’i pernah menyatakan:
“Barangsiapa
menginginkan dunia, maka harus dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan
akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan keduanya,
maka harus dengan ilmu”.
Dari
sini, sudah seyogyanya manusia selalu berusaha untuk menambah kualitas
ilmu pengetahuan dengan terus berusaha mencarinya hingga akhir hayat.
Dalam al-Qur’an surat Thahaa ayat 114 disebutkan:
“Katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.”
Pemerolehan Pengetahuan dan Objeknya (Proses Pendidikan)
Pendidikan
Islam memiliki karakteristik yang berkenaan dengan cara memperoleh dan
mengembangkan pengetahuan serta pengalaman. Anggapan dasarnya ialah
setiap manusia dilahirkan dengan membawa fitrah serta dibekali dengan
berbagai potensi dan kemampuan yang berbeda dari manusia lainnya. Dengan
bekal itu kemudian dia belajar: mula-mula melalui hal yang dapat
diindra dengan menggunakan panca indranya sebagai jendela pengetahuan;
selanjutnya bertahap dari hal-hal yang dapat diindra kepada yang
abstrak, dan dari yang dapat dilihat kepada yang dapat difahami.
Sebagaimana hal ini disebutkan dalam teori empirisme dan positivisme
dalam filsafat. Dalam firman Allah Q.s. an-Nahl ayat 78 disebutkan:
“Dan
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati
agar kamu bersyukur”.[1]
Dengan
pendengaran, penglihatan dan hati, manusia dapat memahami dan mengerti
pengetahuan yang disampaikan kepadanya, bahkan manusia mampu menaklukkan
semua makhluk sesuai dengan kehendak dan kekuasaannya. Dalam al-Qur’an
surat al-Jatsiyah ayat 13 disebutkan:
“Dan
dia menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi
semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
berfikir”.
Namun,
pada dasarnya proses pemerolehan pengetahuan adalah dimulai dengan
membaca, sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-‘Alaq ayat 1-5:
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (1), Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah (2). Bacalah, dan Tuhanmulah
yang Maha Pemurah (3), Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
(4), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”.
Dalam pandangan Quraish Shihab kata Iqra’
terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir
aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti,
mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks tertulis maupun tidak.
Wahyu
pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena al-Qur’an
menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’
berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu;
bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang
tertulis maupun yang tidak. Alhasil, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.[2]
Sebagaimana dalam al-Qur’an surat Yunus ayat 101 disebutkan:
“Katakanlah: ‘Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi”.
Al-Qur’an
membimbing manusia agar selalu memperhatikan dan menelaah alam
sekitarnya. Karena dari lingkungan ini manusia juga bisa belajar dan
memperoleh pengetahuan.
Dalam al-Qur’an surat asy-Syu’ara ayat 7 juga disebutkan:
“Dan
apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami
tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?”.
Demikianlah,
al-Qur’an secara dini menggarisbawahi pentingnya “membaca” dan
keharusan adanya keikhlasan serta kepandaian memilih bahan bacaan yang
tepat.[3]
Namun,
pengetahuan tidak hanya terbatas pada apa yang dapat diindra saja.
Pengetahuan juga meliputi berbagai hal yang tidak dapat diindra.
Sebagaimana tertuang dalam al-Qur’an surat Al-Haqqah ayat 38-39:
“Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat (38). Dan dengan apa yang tidak kamu lihat (39)”.
Dengan
demikian, objek ilmu meliputi materi dan nonmateri, fenomena dan
nonfenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh
manusia pun tidak. Dalam al-Qur’an surat Al-Nahl ayat 8 disebutkan:
“Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya”.[4]
Sebagaimana
telah dipaparkan di atas, dalam pengetahuan manusia tidak hanya sebatas
apa yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia, namun juga semua
pengetahuan yang dapat menyelamatkannya di akhirat kelak.
Islam
mengehendaki pengetahuan yang benar-benar dapat membantu mencapai
kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia. Yaitu pengetahuan terkait
urusan duniawi dan ukhrowi, yang dapat menjamin kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia di dunia dan di akhirat.
Pengetahuan
duniawi adalah berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan urusan
kehidupan manusia di dunia ini. Baik pengetahuan moderen maupun
pengetahuan klasik. Atau lumrahnya disebut dengan pengetahuan umum.
Sedangkan pengetahuan ukhrowi adalah berbagai pengetahuan yang mendukung
terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia kelak di
akhirat. Pengetahuan ini meliputi berbagai pengetahuan tentang perbaikan
pola perilaku manusia, yang meliputi pola interaksi manusia dengan
manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Atau biasa
disebut dengan pengetahuan agama.
Pengetahuan umum (duniawi)
tidak dapat diabaikan begitu saja, karena sulit bagi manusia untuk
mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui kehidupan dunia ini yang
mana dalam menjalani kehidupan dunia ini pun harus mengetahui ilmunya.
Demikian halnya dengan pengetahuan agama (ukhrowi),
manusia tanpa pengetahuan agama niscaya kehidupannya akan menjadi hampa
tanpa tujuan. Karena kebahagiaan di dunia akan menjadi sia-sia ketika
kelak di akhirat menjadi nista.
Islam
selalu mengajarkan agar manusia menjaga keseimbangan, baik keseimbangan
dhohir maupun batin, keseimbangan dunia dan akhirat. Dalam Qs. Al-Mulk
ayat 3 disebutkan:
“Yang
telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak
melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak
seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang! Adakah kamu lihat sesuatu yang
tidak seimbang?”.
Dalam al-Qur’an surat ar-Ra’d ayat 8 juga disebutkan:
“Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ukuran”.
Dari
sini dapat dipahami bahwa Allah selalu menciptakan segala sesuatu dalam
keadaan seimbang, tidak berat sebelah. Demikian halnya dalam penciptaan
manusia. Manusia juga tercipta dalam keadaan seimbang. Dari
keseimbangan penciptaannya, manusia diharapkan mampu menciptakan
keseimbangan diri, lingkungan dan alam semesta. Karena hanya manusia
yang mampu melakukannya sebagai bentuk dari kekhalifahan manusia di muka bumi.
Dalam al-Qur’an surat al-Qashash ayat 77 disebutkan:
“Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan)
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah
berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan”.
Manusia
tidak dianjurkan oleh Islam hanya mencari pengetahuan yang hanya
berorientasi pada urusan akhirat saja. Akan tetapi, manusia diharapkan
tidak melupakan pengetahuan tentang urusan dunia. Meskipun kehidupan
dunia ini hanyalah sebuah permainan dan senda gurau belaka, atau
hanyalah sebuah sandiwara raksasa yang diciptakan oleh Tuhan semesta
alam. Namun, pada dasarnya manusia diharapkan mampu menjaga keseimbangan
dirinya dalam menjalani realita kehidupan ini, termasuk dalam mencari
pengetahuan.
Al-Qur’an surat al-An’aam ayat 32 menyebutkan:
“Dan
tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau
belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang
bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”.
Islam
menghendaki agar pemeluknya mempelajari pengetahuan yang dipandang
perlu bagi kelangsungan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak. Dalam
al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 201 disebutkan:
“Dan
di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari
siksa neraka”.
Kebaikan (hasanah)
dalam bentuk apapun tanpa didasari ilmu, niscaya tidak akan terwujud.
Baik berupa kebaikan duniawi yang berupa kesejahteraan, ketenteraman,
kemakmuran dan lain sebagainya. Apalagi kebaikan di akhirat tidak akan
tercapai tanpa adanya pengetahuan yang memadai. Karena segala bentuk
keinginan dan cita-cita tidak akan terwujud tanpa adanya usaha dan
pengetahuan untuk mencapai keinginan dan cita-cita itu sendiri.

0 komentar:
Posting Komentar